REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Munculnya video ‘mesum’ yang dilakukan pelajar sekolah menengah pertama (SMP) menjadi pengingat akan pentingnya melindungi anak dari prilaku amoral. Ini tidak hanya menjadi tugas guru saja tetapi juga semua pihak termasuk orang tua.

Khusus orang tua, mereka perlu meniru cara berpikir seperti guru. Demikian diungkap Direktur Sekolah Guru Indonesia (SGI), Asep Sapaat, kepada ROL, Rabu (30/10). Menurut dia, selama ini ada kesan orang tua seperti menyerahkan anaknya ke sekolah atau institusi pendidikan non-formal. Padahal, pendidikan pertama dan utama ada di keluarga.

“Ini yang dimaksud dengan cara berpikir seperti guru. Orang tua harus sadar akan tanggung jawab besar guna menyiapkan generasi sebelum terjun ke masyarakat,” kata dia.

Usaha itu dimulai, kata dia, dengan mendidik dirinya sendiri agar melakukan proses pembiasaan dan peneladanan agar menjadi sosok inspiratif dan berkarakter. “Kalau orang tua ‘garing’, pada saat bersamaan mereka akan mencari idola lain. Kalau idolanya free seks, narkoba dan komunitas rusak, apa jadinya anak kita,” kata dia.

Itu sebabnya, lanjut dia, kejadian ini merupakan saat yang tepat bagi para orang tua dan guru guna bersikap tegas pada dirinya untuk berbuat kebaikan. Jika orang tua dan guru konsisten berprilaku baik dalam keseharian.

“Hal itu menyampaikan pesan kepada anak-anak bahwa kita sedang mengajak anak guna berlaku yang sama,” kata dia.

Apakah itu mudah, kata Asep, tentu saja tidak. Disini para orang tua dan guru harus punya waktu leluasa menyempatkan diri berbagi rasa dan pikiran dengan anak. Mereka butuh figur menjadi sahabat terbaik dalam beragam kondisi. “Nah, orang tua harus mau belajar biar tidak jadul dan kehilangan kharisma,” kata dia.